Belajar dari K.H. M.Tholchah Hasan, Sang Pengkader dari Rahim NU

isnujatim.org - Akhir ramadan 1440 Hijriah lalu, tepatnya 29 Mei 2019 pukul 14.10, warga Malang, atau mungkin warga seluruh Indonesia, kehilangan sosok teladan di bidang pengembangan masyarakat khususnya dalam bidang pendidikan Islam. Beliau sangat gigih menanamkan nilai. Beliau selalu berpesan agar masjid bukan hanya sebagai pusat peribadatan, tapi sekaligus sebagai pusat peradaban. Beliau adalah guru kita semua yakni Prof K.H. M Tolchah Hasan.

Karena motivasi dan dorongan beliau, lembaga pendidikan yang beliau bina seperti yayasan Universitas Islam Malang (Unisma), yayasan Masjid Sabilillah Malang, Yayasan Al Ma’arif Singosari tumbuh berkembang menjadi lembaga bereputasi nasional. Sabilillah adalah masjid besar percontohan paripurna nasional yang diberikan oleh Kemenag tahun 2017. Yayasan Unisma adalah yayasan yang memiliki reputasi sangat bagus dengan Unisma sebagai salah satu perguruan terbaik di kalangan Nahdlatul Ulama. Rumah sakit Islam Unisma yang sedang berkembang pesat dengan infrastruktur dan sistem pelayanan kesehatan yang baru adalah buah dari belaan yayasan binaan beliau.

Sekolah Dasar Islam Sabilillah adalah salah satu SD Islam swasta terbaik nasional dan telah berhasil melakukan inovasi dalam pengembangan kurikulum dengan pendidikan karakter sebagai fokus keunggulannya. Sistem pendidikan di Lembaga Pendidikan Islam Sabilillah telah dicontoh, dicopy paste dan diaplikasikan sekurang di 600 lembaga pendidikan dasar di seluruh Indonesia, termasuk di lingkungan yayasan Angkasa dan beberapa di Kalimantan Timur, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, dan lain-lain.

 

Penampilannya tampan dengan postur yang tinggi, pakaian yang selalu rapi, trendi dan elegan. Dibanding kebanyakan kyai sepuh NU lainnya, walau bersarung dan kadang berjubah, tampaknya pilihan dan kualitas busana beliau sangat pas, menyesuaikan waktu dan tempat beraktifitas. Namun, jangan dikira beliau hubbud dun ya, pecinta gemerlap kehidupan dunia. Beliau adalah tokoh yang sangat sederhana. Dalam kehidupan sehari hari beliau sangat sederhana dilihat dari jabatan strategis yang beliau pernah emban khususnya sebagai Menteri Agama era Presiden KH Abdurrachman Wahid, Katua Baznas dan beberapa posisi puncak di berrbagai lembaga pendidikan.

Beliau al maghfurlah Prof. DR. K.H. M.Tholchah Hasan, salah satu mustasyar PBNU yang sangat senior yang justru pada masa tuanya memilih untuk berkhidmad di luar struktur NU.”Saya ini sejak muda menjadi pengurus NU mulai dari ranting sampai ke PBNU, kalau usia saya sekarang lebih dari 80 tahun maka mungkin sudah 60 tahun saya aktif, sekarang saya lebih memilih untuk menekuni pengembangan masyarakat melalui pembangunan lembaga pendidikan, pengembangan kampus, mengemangkan rumah sakit dan pengembangan masjid seperti Sabilillah ini,” hatur beliau suatu saat kepada saya.

Saya nggak kaget ketika mendengar khabar beberapa kali beliau didatangi petinggi organisasi terbesar di Indonesia dan diyakinkan bahwa kehadiran beliau sangat dibutuhkan untuk menempati posisi pejabat Rais Aam, terutama saat saat kehadiran beliau diperlukan sebagai penengah dan penyejuk-penyeimbang berbagai kekuatan sosiologis di PBNU. Hal ini terjadi di beberapa muktamar NU dan beberapa kesempatan ada jabatan Rois Aam (pemimpin tertinggi di kalangan NU) yang lowong. Saya sendiri pernah diutus oleh Al Maghfurlah KH Achmad Hasyim Muzadi untuk menyampaikan pesan agar beliau bersedia menjadi Rois Aam PB NU, jabatan prestisius di organisasi kegamaan terbesar di Indonesia.

Namun, sampai akhir hayat, beliau menolak dengan alasan usia yang sudah udzur. Walau sesungguhnya dibalik alasan tersebut ada alasan falsafati yang beliau meyakini bahwa beliau tak mau memegang jabatan apapun dalam organisasi manakala ada orang lain yang masih berminat menginginkannya. Ada juga rasia yang beliau kemukakan bahwa sebaiknya NU juga menguatkan lembaga lembaga dan banom serta membentuk yayasan yasana penyelenggara pendidikan yang berkualitas dalam jumlah dan di wilayah yang lebih luas.

Di rumah beliau yang asri dan cukup luas di Singosari, beliau tinggal dengan keluarga besar di dekat kompleks kaum santri dan dekat kompleks makam pahlawan serta situs kerajaan Singosari dikelilingi oleh yayasan yayasan sosial keagamaan dan pendidikan yang beliau dirikan yang selalu berkembang pesat mengikuti perkembangan jaman, Beliau membina masjid, mengajak rapat para penyelenggaraan lembaga pendidikan agama, beliau pendidikan Al Qur’an dan juga penyelenggaraan pendidikan umum dengan situasi kultural daerah kecamatan santri yang sedang digempur modernisai. Daerah yang dalam lingkungannya masih tegak berdiri arca arca dan Candi peninggalan kerajaan Singosari serta petilasan pemandian Ken Dedes yang legendaris.

Tidak seperti kisah Ken Arok yang brangasan, beliau seorang narator dakwah dan komunikator ulung, seorang ulama yang sangat bagus menjelaskan beberapa ayat ayat penting tentang akhlakul karimah, tentang rukum Islam dan rukun Iman serta royadhoh menuji insal kamil, beliau adalah seorang transformator niali nilai organisasi yang ada dalam nash Al Qur’an dan apa yang terbaca dalam kitab kitab klasiak, kitab menegenai sirah nabawiyah menjadi penanam nilai yang efektif. Beliau memiliki networking keulamaan yang sangat baik di seantero Nusantara. Beliau kyai yang tahu pemerintahan sebab telah sukses menegelola perzakatan, perhajian dan manajemen umum di Kementrian Agama.

Pada rentang usia ke-65 sampai akhir hayat beliau usia ke 84 beliau adalah ketua dewan pembina di belasan yayasan pendidikan dan yayasan pondok pesantren serta penasehat beberapa organisasi kemasyarakatan. Kyai Tholchah yang wafat dan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di Bungkuk Singosai memiliki hubungan dengan KH Masjkur, pemimpin pasukan Hisbullah yang diusulkan menjadi pahlawan nasional dari Jawa Timur karena jasa jasanya saat perang kemerdekaan RI tahun 1945.

Sebagai seorang santri lepas beliau, saya banyak mendapat pengaaman dan pelajaran yang berharga melalui tausiyah tausiyah beliau maupun lontaran gagasan tentang pengembangan masyarakat. Gagasan masjid bukan hanya sebagai pusat peribadatan namun juga sebagai pusat pengakderan, pelayanan sosial dan pusat peribatan dalam sistem yang terpadu telah beliau buktikan melalui Yayasan Sabilillah yang beliau dirikan awal tahun 80an.

 

Namun beliau bukanlah sosok tanaman yang tumbuh tanpa buah, beliau mementingkan proses, penanaman nilai dan juga harus dengan kualitas terbaik. Di tengah gempuran teknologi beliau yang kyai sepuh dengan background sistem pendidikan pondok pesantren klasik tak pernah lelah untuk menanamkan inovasi dan pengembangan dakwah; dari lembaga apa adanya, sak onone, seadanya, menjadi lembaga yang inovatif produktif yang mendapat kepercayaan dari masyarakat.

Karena aneka dedikasi inilah, bisa dibilang beliau adalah sang pengkader yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU). Sebuah kebanggaan, bagi kita semua.

 

sumber : m.kumparan.com

┬ęCopyright isnujatim 2018