Warisan Gus Sholah untuk Pendidikan Diungkap Ketua ISNU Jatim

isnujatim.org - Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah menghembuskan nafas terakhir di RS Harapan Kita, Jakarta. Gus Sholah wafat pukul 08.55 WIB, Minggu 2 Februari 2020.

Meninggalnya Gus Sholah membuat banyak tokoh merasakan kehilangan, seperti halnya Direktur Pascasarjana Universitas Islam Malang, Prof. Dr. M. Mas'ud Said. Menurut dia, Gus Sholah adalah seorang yang sangat konsen dalam dunia pendidikan di Indonesia, baik sebagai pemerhati dan juga pelaku.

Dalam wawancara ekslusif dengan PustakaJC.co di sela-sela perjalanan takziyah menuju ke rumah duka Gus Sholah, di Jln. Irian Jaya No. 10, Cukir, Tebuireng, Jombang, ia menceritakan, dirinya sempat berbincang-bincang sedikit mengenai pendidikan dengan Gus Sholah sebelum wafat.


"Beliau mementingkan karakter kepada anak didik, sistem pendidikan yang mengarah ke kurikulum sistem dan akses pendidikan yang adil bagi semua orang. Beliau mengedepankan kesatuan kata dan tindakan. Pendidikan pembebasan namun berbekal akhalkul karimah," kata Prof. Mas'ud.

Dok instagram mmasudsaid


Gus Sholah, sambungnya, berperan nyata mencerdaskan bangsa baik dari sisi akademis dan juga agama. Tidak hanya menyukseskan program wajib belajar di Indonesia tapi juga mencerdaskan dan menjadikan anak didik yang memiliki kekuatan iman dan takwa. Sumbangsih Gus Sholah berupa pemikiran-pemikiran kepada bangsa juga bernilai untuk kemajuan pendidikan di Tanah Air.

"Beliau setahu saya dengan rendah hati menggali komunikasi dengan tokoh-tokoh pendidikan seperti Prof Imam Suprayogo UIN Malang, Prof Masykuri Bakri dan tokoh pendidikan nasional lain untuk memajukan lembaga pendidikannya (Pesantren Tebuireng)," tutur Ayah empat orang anak ini.

Pada kesempatan lain, sebelum wafat, kepada PustakaJC.co, Gus Sholah juga mengemukakan pendapatnya tentang pendidikan di Indonesia. Gus Sholah mengungkap beberapa penyebab turunnya mutu pendidikan Indonesia. Salah satunya yakni kesejahteraan pendidik dan tenaga pendidik yang rendah. Bahkan bisa dikatakan di bawah standar.

"Masalah pendidikan utamanya itu dua hal, mutu bahan baku dan kesejahteraan,” jelas cucu pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari ini.

Dok pustakajc.co


Gus Sholah memulai pembahasan tentang konsep pendidikan yang meliputi tiga aspek. Meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Gus Sholah menilai saat ini perhatian pemerintah dalam pendidikan lebih tinggi terhadap aspek kognitif dibandingkan afektif. Sementara itu aspek kognitif belum bisa disebut baik.


"Kognitif di Indonesia walaupun di atas afektif tetap masih kurang baik. Masalah utama kita ada pada mutu guru. Ini jadi masalah nasional,” ungkap adik Presiden keempat, KH Abdurahman Wahid ini.

Ya, Republik Indonesia kehilangan tokoh pendidikan setelah sosok penting seperti Gus Sholah wafat Minggu (2/2/2020) karena penyakit jantung yang dideritanya.