Ketua ISNU Jatim Kenang Gus Sholah sebagai Tokoh yang Tak Bisa Dibeli

isnujatim.org – Kepergian KH Salahuddin Wahid, meninggalkan duka mendalam bagi banyak kalangan. Cucu pendiri Nahdlatul Ulama ini dikenal sebagai tokoh yang mempunyai pandangan dan sikap tegas, tak bisa dibeli dengan iming-iming jabatan atau hal lain yang melemahkan sikap adil, rasional dan demokrasi.

Pandangan itu salah satunya yang dikenang Profesor M. Mas’ud Said, Direktur Pascasarjana Unisma, dalam wawancara ekslusif bersama Pustaka JC.co, disela sela – sela perjalanan menuju takziyah ke rumah duka KH. Salahuddin Wahid, di Pesantren Tebuireng, Jln. Irian Jaya No 10 Cukir, Jombang Jawa Timur.

Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur mengurai, Gus Sholah juga dikenalnya sebagai tokoh nasional yang memiliki reputasi baik. Seorang tokoh bangsa memiliki karakter jujur, tegas, rasional namun mengedepankan dialog.

Pribadi baik memiliki kemampuan menyatukan beberapa kelompok yang terpisah atau berseberangan. Pada saat yang sama juga tak mau berkompromi dengan orang orang yang dianggap memanfaatkan jabatan untuk kepentingan diri pribadi

Dok instagram mmasudsaid

Meski memiliki akar keluarga Pahwalawan Nasional dan cucu Pendiri NU, namun KH Salahudin Wahid tetap hidup sederhana. Rumah, baju keseharian, makan hingga kendaraan pribadinya sangat bersahaja untuk ukuran kyai besar dan tokoh nasional.

Warisan tradisi pesantren yang kuat sekaligus pendidikan umum modern yang menonjol mampu dikelola Gus Sholah dengan bagus. Terbukti saat memimpin Pesantren Tebuireng sejak tahun 2006, cucu Hadratussyekh KH Hasyim Asyari itu telah membuat sejumlah perubahan besar dan kemajuan.

Mas’ud mencontohkan, seperti pembuatan Museum Hasyim Asyari, kemudian memajukan Universitas Hasyim Asyari Tebuireng dengan berbagai fakultas. serta menjadikan Ponpes Tebuireng maju pesat.

Di dunia luar, lanjut Prof Mas’ud, Gus Sholah dikenal dengan kontribusinya untuk keadilan dan penegakan HAM, tokoh yang mendorong pemilu adil, politik tanpa money politics.

“Beliau adalah proponent (pendukung) Muktamar dan pemilihan kepemimpinan yang demokratis baik di pemerintahan dan di jamiyah khususnya Nahdlatul Ulama,” sebut Prof Mas’ud.

Sekali lagi, Mas’ud mengenang sosok Kyai Salahuddin Wahid, sebagai salah satu putra terbaik bangsa, seorang yang paling konsisten dengan pribadi tegas, dan mengajarkan kejujuran serta berkarakter penuh kesantunan,

“Kami masih sangat membutuhkanmu kyai, kami mohon maaf atas kelemahan kami, insyaallah kami pegang beberapa amanahmu. Semoga njenengan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.” tutup prof Mas’ud.



Tinggalkan Balasan